Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Asal Muasal Dan Karakteristik Khawarij



Penterjemah :

Ummu Abdillah al-Buthoniyah

Zezen Zainal Mursalin, Lc.


MRM Graph


Asal Muasal Khawarij


Setelah syahidnya Khalifah Umar bin Khathab , pintu fitnah terbuka, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits. Kemudian dengan pembunuhan Khalifah ketiga, Utsman bin Affan pada tahun 35 H karena konspirasi Ibnu Saba’ dan orang-orang yang terperdaya olehnya, fitnah kembali terjadi – dan kita terus menyaksikan akibat buruknya sampai hari ini.


Sebenarnya, Ali bin Abi Thalib dibai’at sebagai Khalifah yang berikutnya setelah Utsman, dan demikian sebagian besar kaum Muslimin berbai’at kepadanya. Namun Mu’awiyah  dan orang-orang yang berada bersamanya dari penduduk Negeri Syam tidak berbai’at, dengan alasan bahwa wajib untuk segera mengadili orang-orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan Utsman bin Affan . Ali mengatakan kepada Mu’awiyah: “Masuklah ke dalam apa yang manusia masuk ke dalamnya (bai’at) dan biarkan aku mengadili mereka.. Aku akan mengadilli mereka dengan kebenaran.”


Selanjutnya, Aisyah, Talhah, Az-Zubair berangkat menuju Bashrah, merasa sedih dan menuntut keadilan bagi darah Utsaman .


Ali berusaha meyakinkan Aisyah, Thalhah dan Az-Zubair betapa pentingnya melakukan bai’at terlebih dahulu kepada penguasa dan kemudian baru menuntut balas atas kematian Utsman. Perkara tersebut akhirnya dapat diselesaikan dengan kesepakatan di antara mereka. Namun demikian, keesokan harinya, para provokator mengerahkan kekuatan mereka dan mulai mengadakan kekacauan di kedua belah pihak, sehingga para pembuat kedamaian dari kedua belah pihak mengira bahwa kelompok yang satu telah mengelabui kelompok yang lain, dan pecahlah peperangan. Perang yang terjadi, yang kemudian dikenal dengan Perang Jamal, berakhir dengan kematian Thalhah, Az-Zubair dan sepuluh ribu orang dari kedua belah pihak.


Setelah itu Ali berkonsentrasi untuk memerangi Mu’awiyah dan penduduk Negeri Syam. Hal ini karena Ali telah meminta mereka untuk berbai’at namun Mu’awiyah menolak, dengan menyatakan bahwa mereka terlebih dahulu harus menuntut balas atas kematian Utsman. Ali memandang perbuatan Mu’awiyah sebagai pemberontakan kepada khalifah. Maka terjadilah Perang Shiffin. Ketika Ali dan orang-orang yang bersamanya hampir memperoleh kemenangan, pasukan Mu’awiyah meletakkan mushaf Al-Qur’an di ujung tombaknya dan mengajak untuk bertahkim / berhukum kepada Al-Qur’an... Ali memandang hal ini sebagai tipu muslihat dari mereka, namun ia terpaksa menerima proses Tahkim untuk perdamaian di antara kedua pasukan dari para anggota pasukannya, khususnya para penghafal Al-Qur’an, demi kemashlahatan agama.


Segera setelah proses tahkim itu terjadi, diantara pasukan Ali terdapat sebagian yang menentang keputusan tersebut. Penentangan tersebut kemudian berakhir dengan pengingkaran terhadap pemimpin dan memberontak terhadapnya. Bahkan hal itu sampai membuat mereka mengkafirkan Ali demikian juga dengan orang-orang menyetujui Tahkim / keputusannya. Dan mereka meninggikan slogan mereka, “Tidak ada hukum selain hukum Allah.”


Ali berusaha berdamai dengan mereka dengan menghadirkan kepada mereka hujjah dan dalil, dan sebagian mereka sadar kembali setelah Ibnu Abbas berdebat dengan mereka. Maka ketika nasihat tidak diindahkan oleh sebagian orang lainnya yang tetap bersikukuh terhadap penolakan dan fanatismenya, Ali mengerahkan pasukan dan memerangi mereka. Ini dikenal dengan Perang Nahrawaan. Ali  berhasil membasmi mereka, kecuali sebagian kecil di antara mereka yang melarikan diri ke wilayah lain.


Setelah Ali terbunuh di tangan anggota Khawarij, bahaya Khawarij meningkat. Sisa-sisa pasukan mereka yang menyebar menggabungkan kekuatan menebarkan racun di kalangan muda dari umat ini, bahkan mereka membentuk kekuatan dalam negara Islam yang mengancam keamanan negara dan keselamatan kaum Muslimin.


Kelompok ini tidak berhenti memerangi kaum Muslimin sejak saat itu hingga sekarang, sebagaimana yang dikabarkan Nabi s kepada kita. Dan mereka menamai diri mereka dengan nama selainnya, padahal kenyataannya mereka hanyalah perluasan dari pendahulu Khawarij.



Peringatan Terhadap Khawarij dan Perintah untuk Memerangi Mereka dan Memutuskan Akar Mereka





Terdapat beberapa hadits Shahih dari Rasulullah SAW yang telah diriwayatkan mengenai celaan, peringatan terhadap mereka dan perintah untuk memerangi dan memutuskan akar mereka.


Telah diriwayatkan dalam hadits Abu Sa’id al-Khudriy bahwa ia berkata: Ali yang sedang berada di Yaman, mengirimkan emas yang masih dalam bijinya kepada Rasulullah SAW, kemudian Rasulullah SAW membagikannya kepada empat orang, Uyaninah bin Badr, Al-Aqra bin Habis, Zaid al-Khail, dan yang keempat Alqamah bin Ulatsah atau Amir bin at-Tufail. Salah seorang sahabat beliau berkata, “Kami lebih berhak daripada mereka.” Hal ini sampai kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda: “Tidakkah kalian percaya kepadaku sedangkan aku adalah orang yang dipercaya oleh Dia yang berada di langit? Wahyu dari langit turun kepadaku pagi dan petang.” Kemudian Seorang laki-laki berdiri, bermata cekung, tulang pipi menonjol, jidatnya jenong, berjanggut tebal, berkepala botak, dan kain membelit di pinggang, ia berkata: “Wahai Rasulullah, bertakwalah kepada Allah.” Nabi s berkata: “Celaka kamu! Bukankah aku yang paling berhak takut kepada Allah daripada seluruh penduduk bumi?” Kemudian laki-laki itu pergi. Maka Khalid bin al-Walid berkata, “Bolehkah aku memenggal leher orang itu wahai Rasulullah?” Beliau SAW bersabda: “Tidak, mungkin dia mengerjakan shalat.” Khalid berkata: “Berapa banyak orang yang shalat mengatakan dengan lisannya yang tidak berasal dari hatinya?” Rasulullah SAW bersabda: “Aku tidak diperintahkan untuk memeriksa ke dalam hati manusia untuk menyibak isi di dalamnya.” Lalu beliau s melihat ketika orang itu pergi dan berkata: “Akan bangkit suatu kaum dari keturunannya yang membaca Al-Qur’an namun tidak melewati kerongkongannya. Mereka akan keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya. “ (Perawi berkata): ‘Saya mengira beliau s juga berkata: “Jika aku bertemu mereka, aku akan membunuh mereka, dengan pembunuhan yang dialami oleh kaum Tsamud.” (HR. Bukhari)


Hadits ini juga diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dari Ali bin Abi Thalib yang berkata: ‘Aku mendengar Rasulullah s bersabda: “Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum, umurnya masih muda, dangkal ilmunya, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia. Membaca Al-Qur'an tidak melebihi kerongkongannya. Mereka terlepas dari agama seperti terlepasnya anak panah dari busurnya. Dimana pun kalian menemukan mereka, bunuhlah mereka. Karena sesungguhnya membunuh mereka terdapat pahala bagi orang yang melakukannya di hari kiamat.”


Imam Ahmad meriwayatkan di dalam Musnadnya (5/456, no. 23856) dari Abu at-Tufail yang berkata: “Seseorang dikaruniai anak-laki di masa Rasulullah s. Maka ia dibawa kepada Nabi yang memegang wajahnya mendoakan agar ia diberkahi. Setelah itu selembar rambut mulai tumbuh di kening anak itu bagaikan bentuk busur. Kemudian anak itu tumbuh menjadi seorang pemuda.7 Dan pada masa Khawarij muncul, dia mencintai mereka, dan rambut di atas keningnya rontok. Maka ayahnya pun mengambil dan menahannya karena khawatir dia akan bergabung dengan barisan mereka. (Perawi mengatakan) Maka kami datang kepadanya dan menasihatinya. Dan diantara yang kami katakan kepadanya adalah: “Tidakkah engkau lihat berkah dari doa Rasulullah telah rontok dari keningmu?” Kami terus menasihatinya sampai dia meninggalkan pemahaman mereka. Dan setelah itu, Allah mengembalikan rambutnya dari keningnya, dan dia bertaubat.”


Al-Haitsami berkata di dalam Majma’uz Zawa’id (6/243): “Dalam (sanad) hadits ini terdapat Ali bin Za’id bin Jad’an dan terdapat kelemahanan padanya. Namun demikian, ia dishahihkan (oleh sebagian). Para perawi lainnya adalah semua perawi yang termasuk ke dalam kategori Shahih.”


Sifat dan Karakteristik Khawarij





Karakteristi Pertama: Mereka berusia muda [Al-Bukhari (no.


5057) dari hadits Ali bin Abi Thalib ].


Karakteristik Kedua: Dangkal ilmunya [Al-Bukhari (no. 5057) dari hadits Ali bin Abi Thalib ].


Karakteristik Ketiga: Mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia. [Al-Bukhari (no. 5057) dari hadits Ali bin Abi Thalib].


Karakteristik Keempat: Iman tidak melewati kerongkongan mereka. [Al-Bukhari (no. 5057) dari hadits Ali bin Abi Thalib].


Karakteristik Kellima: Mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya. Mereka tidak kembali kepadanya. [Muslim (2496) dari hadits Abu Dzar ].


Dalam riwayat lain: “Mereka terlepas dari agama seperti terlepasnya anak panah dari busurnya.” [Al-Bukhari (5058) dari hadits Abu Sa’id al-Khudri ].


Dalam riwayat yang lain dikatakan: “Mereka keluar dari Islam...” [Al-Bukhari (no. 5057) dari hadits Ali bin Abi Thalib ].


Karakteristik Keenam: Mereka memiliki kelemahan dalam memahami agama Allah. Itulah sebabnya mengapa diriwaytkan bahwa ”Mereka membaca Al-Qur’an tapi tidak melampaui…” [Muslim (no. 2456)] atau “...melewati kerongkongan mereka.” [Al-Bukhari (no. 5058) dari Abu Sa’id Al-Khudri ].


Dalam riwayat lain dikatakan: “...tenggorokan (huluuq) mereka...” [Muslim (no. 2455) dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri ].


Dalam riwayat lain dikatakan: “...tenggorokan mereka (halaaqihim) ...” [Muslim (no. 2459) dari hadits Abu Dzar ].


Dalam riwayat lain dikatakan: “...dari kerongkongan mereka (taraaqihim)” [Al-Bukhari (no. 6934) dari Sahal bin Hunaif ].


Dalam riwayat lain dikatakan: “Lidah mereka fasih dengan Al-Qur’an.” [As-Sunnah Ibnu Abi ‘Ashim (no. 937) dari Abu Bakrah ].


Dalam riwayat lain dikatakan: “Mereka membaca Al-Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka.” [Muslim (no. 2470) dari Sahal bin Hunaif ].


Dalam riwayat lain: “Mereka membaca Al-Qur’an dan memandang Al-Qur’an itu adalah hujjah yang mendukung mereka padahal ia adalah hujjah yang membantah mereka.” [As-Sunnah Ibnu Abi Ashim (916) dari Ali bin Abi Thalib ].


Dalam riwayat lain dikatakan: “Mereka menyangka...” dan bukan “ Mereka memandang..” [Muslim (no. 2467) dari hadits Ali bin Abi Thalib ].


Dalam sebuah riwayat beliau SAW bersabda: “Mereka mengajak kepada Kitabullah, akan tetapi mereka tidak berasal dari Allah sedikit pun.” [As-Sunnah Ibnu Abi Ashim (no. 941) dari Abu Zaid al-Anshari ].


Dalam riwayat hadits yang lain, ketika Khawarij dan apa yang mereka alami dengan bacaan Al-Qur’an disebutkan kepada Ibnu Abbas, beliau berkata: “Tidaklah mereka sekeras Yahudi dan Nashrani dalam berijtihad, namun mereka sesat.” [Asy-Syari’ah (hal. 27-28)].


Dan dalam riwayat lain Ibnu Abbas berkata: “Mereka beriman dengan yang muhkam dan binasa dalam ayat mutasyabih - Tidak ada yang mengetahui makna yang tersembunyi kecuali Allah. Dan adapaun orang-orang yang memiliki akar keilmuan yang kuat, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya.”


Dan beliau berkata: “Mereka dalam keadaan bingung dan mabuk. Mereka bukan Yahudi, Nasrani atau Majusi, sehingga mereka memiliki alasan.” [Asy-Syari’ah (hal. 28)].


Karakteristik Ketujuh: Mereka berlebih-lebihan dalam beribadah, sebagaimana terdapat di dalam hadits dimana Rasulullah s berkata kepada para Sahabatnya mengenai mereka, “Shalat mereka mengalahkan shalat kalian. Puasa mereka mengalahkan puasa kalian. Dan bacaan Al-Qur’an mereka mengalahkan bacaan kalian.” [Muslim (no. 2647) dari hadits Ali bin Abi Thalib ].


Dalam sebuah riwayat hadits ini dikatakan: “Kalian akan memandang rendah shalat kalian dibandingkan shalat mereka...” [Muslim (no. 2455) dari Abu Sa’id al-Khudri ].


Dan dalam riwayat lain: “...dan kalian akan memandang rendah amal kalian dibanding amal mereka...” [Syarah Usul I’tiqad Ahlus Sunnah (8/1231)].


Karakteristik Kedelapan: Mereka adalah seburuk-buruk ciptaan dan seburuk-buruk mahluk. [Muslim (no. 2465) dari Abu Dzar ].


Abu Abdillah Ahmad bin Hambal berkata: “Khawarij adalah orang-orang jahat. Saya tidak mengetahui ada manusia lain di muka buni yang lebih buruk dari mereka.” [Sunan Abu Bakar Al-Khalal (no. 110)].


Karakteristik Kesembilan: Sifat mereka yang membedakan adalah mereka mencukur kepalanya. [Muslim (no. 2457) dari Abu Sa’id al-khudri ].


Dalam riwayat lain dari hadits ini dikatakan: “At-Tasbiit.’ [Muslim (4765) dari Anas bin Malik ].


Tasbiit berarti menghilangkan rambut pendek.


Karatkeristik Kesepuluh: Mereka membunuh orang-orang beriman dan membiarkan para penyembah berhala.


Dalah sebuah riwayat dikatakan: “Mereka akan membunuh orang-orang Islam...” [Muslim (no. 2451) dari hadits Abu Sa’id al-khudri ].


Karakteristik Kesebelas: Mereka berlebihan dalam mengamalkan (ta’ammuq) agama sehingga mereka keluar darinya. [As-Sunnah Ibnu Abi AAshim (no. 930) dari Abdullah bin Amr ].


Krakteristik Kedua Belas: Mereka merendahkan penguasa mereka dan menyatakan bahwa mereka (penguasa) berada dalam kesesatan, sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Dzul-Khuwaishirah terhadap Nabi SAW.


Karakteristik Ketiga Belas: Mereka mengajak kepada Kitab Allah akan tetapi mereka tidak termasuk di dalamnya [Abu Dawud (no. 4765) dari hadits Abu Sa’id al-khudri dan Anas bin Malik ].


Karakteristik Keempat Belas: Mereka tidak meyakini bahwa ahlul ilmi memiliki keutamaan dan kedudukan khusus. Itulah sebabnya mengapa mereka menganggap bahwa mereka lebih berilmu dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas dan para Sahahabat lainnya . [Al-Khawarij Awwalul Firaq fi Tarikh-il Islam (hal 38)].


Karakteristik Kelima Belas: Mereka berlebih-lebihan dalam beribadah. Mereka melakukan ibadah sehingga orang-orang yang melihat mereka kagum kepada mereka dan mereka (Khawarij) kagum kepada diri mereka sendiri. [As-Sunnah Ibnu Abi Aashim (no. 945) dari hadits Anas bin Malik ].


Ibnu Abbas  berkata: “Dan aku belum pernah melihat suatu kaum yang lebih keras dalam usahanya (beribadah) daripada mereka. Tangan-tangan mereka seperti kapalan (kulit keras) unta dan kening-kening mereka bertanda karena bekas sujud.” [Majma’uz Zawa’id 6/240)].


Karakter Keenam Belas: Ibnu Umar menganggap mereka sebagai mahluk terburuk. Beliau berkata: “Mereka menerapkan ayat yang diturunkan untuk orang-orang kafir kepada orang-orang mukmin.” Al-Bukhari meiriwayatkannya dalam Bab: ‘Membunuh Khawarij dan Atheis setelah menegakkan hujjah atas mereka’.



Allah berfriman:



“Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi.” (QS At-Taubah [9] : 115)


Karakter Ketujuh Belas: Mereka memerangi kelompok terbaik di antara manusia. [Al-Bukhari (no. 6933)].


Karakter Kedelapan Belas: Firman Allah:



“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat...”(QS At-Taubah [9] :58) diturunkan mengenai Abdullah bin Dzil-khuwaishirah at-Tamimi pendiri Khawarij. [Al-Bukhari (no. 6933) dari hadits Abu Sa’id al-Khudri ].


Karakteristik Kesembilan Belas: Shalat mereka tidak melewati kerongkongan mereka. [Muslim (no. 2467) dari hadits Ali bin Abi Thalib ].


Karakteristik Kedua Puluh: Terdapat pahala besar bagi orang yang membunuh mereka. Ali bin Abi Thalib berkata: “Sekiranya pasukan yang memerangi mereka (khawarij) mengetahui apa yang telah disiapkan bagi mereka melalui lisan Nabi mereka , niscaya mereka akan meninggalkan amal.” [HR Abu Dawud (no. 4768)].


Dalam riwayat lain: “Barangsiapa yang memerangi mereka lebih berhak atas Allah daripada mereka.” [Abu Dawud (no. 4765) dari hadits Abu Sa’id al-Khudri dan Anas bin Malik ].


Dan dalam riwayat lain dikatakan: “Keberuntungan bagi orang yang membunuh dan dibunuh oleh mereka.” [Abu Dawud (4765) dari Abu Sa’id al-Khudri dan Ahmad (19172) dari Abdullah bin Abi Aufa ].


Abu Umaamah  berkata, “Mereka adalah seburuk-buruk orang yang terbunuh di bawah kolong langit. Sebaik-baik orang yang mati terbunuh adalah orang yang terbunuh oleh mereka.” Dan ia berkata, “Mereka adalah kaum Muslimin, namun mereka keluar darinya.” [Ibnu Majah (no. 176)].


Karakteristik Kedua Puluh Satu: Mereka menumpahkan darah yang haram – apakah itu diri mereka sendiri dengan cara bunuh diri atau terhadap orang lain dengan melampaui batas terhadap mereka dengan cara membunuh. [Muslim (no. 248) dari hadits Ali bin Abi Thalib ].


Karakter Kedua Puluh Dua: Sebagaimana yang dikatakan Ali bin Abi Thalib, “Mereka mengatakan kebenaran dengan lisannya, namun tidak melampaui ini.” – dan dia menunjuk lehernya. “Mereka termasuk ke dalam mahluk Allah yang paling dibenci-Nya.” Dia mengatakan ini ketika mereka mengatakan kepadanya: “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah.” [Muslim (no. 2468) dari perkataan Ali bin Abi Thalib ].


Karakteristik Kedua Puluh Tiga: Mereka adalah kelompok pertama yang menyimpang dari jama’ah kaum Muslimin dan menyatakan orang-orang Muslim kafir dengan sebab dosa yang mereka lakukan. [Majmu al-Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (3/349 dan 7/279)].


Karakteristik Kedua Puluh Empat: Mereka memperindah perkataannya namun melahirkan perbuatan buruk – setelah menyebutkan perselisihan dan perpecahan umat. [Abu Dawud (no 4765) dari hadits Abu Sa’id al-Khudri ].


Karakteristik Kedua Puluh Lima: Setiap tumbuh generasi baru dari mereka, ia terputus (yakni dari jama’ah). [Ibnu Majah (no. 174) dari Ibnu Umar ].


Karakteristik Kedua Puluh Enam: Dajjal akan muncul dari tengah-tengah mereka.


Dalam sebuah riwayat dikatakan, “...dari penghianatan mereka.”


Dan dalam sebuah naskah dikatakan, “...dari pasukan mereka...” Dan yang dimaksudkan adalah pasukan besar. [Ibnu Majah (no. 174) dari hadits Ibnu Umar ].


Karakteristik Kedua Puluh Tujuh: Mereka termasuk diantara orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, sebagaimana yang ditafsirkan dari firman Allah:


“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat...” (QS Al-Imraan [3] : 7)


Dan firman Allah:


“pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram.” (QS Al-Imraan [3] : 106)


Bahwa orang-orang yang dimaksud dalam ayat ini adalah Khawarij [Ahmad (no. 22313) dari hadits Abu Umaamah ].


Karakteristik Kedua Puluh Delapan: Mereka mengkafirkan seorang Muslim karena melakukan suatu dosa. Dan mereka berkata, “Mereka keluar dari iman dan menjadi kafir.” [Syarah Aqidah at-Tahawiyyah (hal 298) dengan tahqiq Ahmad Syakir].


Karakter Kedua Puluh Sembilan: Mereka beranggapan bahwa seorang Muslim yang melakukan dosa besar akan kekal di dalam neraka. [Syarah Aqidah at-Tahawiyah (hal. 360) dengan tahqiq Ahmad Syakir].


Karakteristik Ketiga Puluh: Mereka berpendapat wajibnya memberontak terhadap penguasa jika ia menentang Sunnah. [Al-Milal wan-Nihal (1/115)].


Karakteristik Ketiga Puluh Satu: Mereka kaum terburuk yang mengambil hukum berdasarkan qyas (analogi). [al-Milal wan-Nihal (1/116)].


Karakteristik Ketiga Puluh Dua: Mereka menganggap masyarakat kafir – baik yang tidak hadir maupun yang hadir – jika pemimpinnya melakukan telah kafir. Hal ini dilakukan oleh Baihasiyyah – salah satu aliran Khawarij [Al-Milal wan-Nihal (1/126)].


Karakteristik Ketiga Puluh Tiga: Mereka menyatakan bahwa orang yang tidak sependapat dengan pemahaman mereka adalah kafir dan menganggap bahwa darah mereka halal untuk ditumpahkan. Mereka juga memperbolehkan membunuh wanita dan anak-anak yang menentang mereka. Hal ini dilakukan oleh Al-Azaariqah – salah satu aliran Khawarij [Lawaami’ul-Anwaar al-Bahiyyah (1/86)].


Karakteristik Ketiga Puluh Empat: Mereka berpendapat bahwa iman adalah ilmu mengenai Allah dan apa yang diajarkan oleh Rasulullah s. Maka barangsiapa yang melakukan sesuatu yang dia tidak yakin apakah hal tersebut halal atau haram, maka dia kafir, karena dia diwajjibkan mempelajari perkara tersebut. Hal ini dilakukan oleh Baihasiyyah – salah satu aliran Khawarij [Lawaami’ul-anwaar al-Bahiyyah (1/87)].


Karakteristik Ketiga Puluh Lima: Mereka berpendapat wajibnya memerangi penguasa dan juga setiap orang yang senang dengan pemerintahannya. Adapun bagi orang-orang yang menolak penguasa, tidak diperbolehkan memerangi mereka kecuali bila mereka membantu penguasa menyerang keyakinan Khawarij atau bertindak sebagai pemberi petunjuk bagi penguasa.14 Hal ini dilakukan oleh Ujaaradah – salah satu aliran Khawarij.


Karakter Ketiga Puluh Enam: Mereka berkata, “Setiap dosa yang dilakukan oleh seseorang menjadikannya kafir, karena ia lalai terhadap Allah. Hal ini dilakukan oleh Makramiyyah al-Munsyaqqah dari Tsa’labiyyah, salah satu aliran Khawarij.


Karakteristik Ketiga Puluh Tujuh: Akan ada di antara mereka yang akan menyertai Dajjal di hari kemudian. Dikatakan kepada Ali : “Segala puji bagi Allah karena telah menyelamatkan hamba-hamba dari mereka.” Dia menjawab: “Tidak, saya bersumpah demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya, masih ada diantara mereka yang berada di dalam tulang sulbi para laki-laki, dan sesungguhnya terdapat di antara mereka yang bersama dengan Dajjal [Lawaami’ul Anwar al-Bahiyyah (1/86)].


Karakteristik Ketiga Puluh Delapan: Mereka tidak menghargai kesucian tempat dan waktu sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Qaramitah dan orang-orang yang datang setelah mereka sampai hari kiamat.


Karakteristik Ketiga Puluh Sembilan: Mereka tidak berpendapat bahwa penguasa yang dzalim memiliki hak kepemimpinan. [Maqaalaat al-Islamiyiin ( 1/204)].


Karakter Keempat Puluh: Mereka berpegang pada makna dzahir nash Al-Qur’an. Meskipun mereka tidak bermaksud menentangnya, namun mereka memahaminya (dengan apa) yang tidak termasuk di dalam nash. Oleh karena itu, mereka menyatakan bahwa para nabi melakukan dosa besar dan kecil berdasarkan firman Allah:


“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang...” (QS Al-Fath [] : 1-2)


Maka menurut mereka Nabi s mungkin melakukan kekufuran dan bertaubat. [Al-Khawarij – Aqidatan wa Fikran wa Filasufatan (hal 54)].


Karakteristik Keempat Puluh Satu: Mereka menolak As-Sunnah jika tidak terdapat pendukungnya yang tercantum secara jelas (ekspisit) di dalam Al—Qur’an.


Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah v berkata: “Mereka tidak mengambil apapun dari As-Sunnah kecuali apa yang dapat ditafsirkan secara umum, tidak termasuk nash-nash yang bertentangan dengan apa yang secara jelas dinyatakan dalam Al-Qur’an, menurut mereka. Sehingga mereka tidak meyakini hukum rajam bagi pezina dan tidak juga meyakini adanya jumlah minimun barang curian sehingga (seseorang) disebut pencuri.” [Majmu al-Fatawa (13/48)].


Karakteristik keempat Puluh Dua: Mereka menunggu di jalan-jalan untuk menyerang orang yang lewat dan menumpahkan darah mereka tanpa haq. [Al-Mustadrak Al-Hakim (2/153), Majma’uz Zawaa’id (6/236) dari perkataan Aisyah ].


Karakteristik Keempat Puluh Tiga: Tidak satu pun dari para Sahabat Rasulullah s yang bersama mereka . [al-Mustadrak Al-Hakim (2/150)].


Karakteristik Keempat Puluh Empat: Banyak di antara mereka yang berbeda satu sama lain. Itulah sebabnya mereka terpecah menjadi begitu banyak aliran, sebagian darinya menyerang sebagian yang lain, dan terkadang, sebagian darinya mengeluarkan perkataan (mencela) terhadap yang lain. Sungguh benar Allah ketika Dia berfirman:


“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya..” (QS An-Nisaa [4] : 82)


[Al-Khawarij – Aqidatan wa Fikran wa Filasufatan (hal 54)].


Karakteristik Keempat Puluh Lima: Mereka adalah anjing-anjing neraka. [Syarah I’tiqad Ahlus Sunnah (8/1232)


Karakteristik Keempat Puluh Enam: Mereka menampakkan sifat-sifat penyeru kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran, mengarahkan nash-nash agama mengenai hal itu ke arah perselisihan dengan penguasa, memberontak terhadap mereka dan memerangi orang-orang yang menentang mereka. [Asy-Syari’ah (hal. 22) dan Al-Khawarij Awwalul Firaq Fi Tariiqil Islam (hal. 37)].


Karakteristik Keempat Puluh Tujuh: Mereka menggunakan pembicaraan dan perkataan para ahli ilmu.


Muhammad bin al-Husain  berkata: “Tidak pantas bagi seseorang yang menyaksikan usaha tak kenal lelah dari Khawarij yang memberontak terhadap seorang penguasa – baik adil ataupun dzalim – kemudian menyerangnya,


mengumpulkan     sekelompok pendukung     untuk menghadapinya, mengangkat pedangnya dan menganggap halal untuk memerangi kaum muslimin – tidak pantas baginya terperdaya oleh bacaan Al-Qur’an orang yang demikian, tidak juga dengan lamanya dia berdiri ketika shalat, atau dengan dia menjaga puasanya terus-menerus, tidak juga dengan perkataannya yang baik mengenai ilmu, selama dia berpegang pada pemahaman Khawarij.” [Asy-Shari’ah (hal. 28)].


Karakteristik Keempat Puluh Delapan: Mereka mem-bolehkan kedzaliman terhadap Nabi s. [Al-Bukhari (no. 6933) dari hadits Abu Sa’id al-Khudri z dan Majmu’al Fatawa Ibnu Taimiyyah (19/73)].


Karakteristik Keempat Puluh Sembilan: Mereka berdalil dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan wa’iid (ancaman akan adzab Allah) dan mengabaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan wa’ad (janji Allah akan ampunan). [Al-Khawarij Awwalul Firaq Fi Tariiqil Islam (hal. 38)].


Karakteristik Kelima Puluh: Mereka tergesa-gesa menerapkan kaidah hukum. [Al-Khawarij Awwalul Firaq Fi Tariiqil Islam (hal. 146)].


Karakteristik Kelima Puluh Satu: Mereka Menghukumi hati. Ini termasuk mengeluarkan hukum atas konsekwensi perkataan atau dugaan seseorang. [Al-Khawarij Awwalul Firaq Fi Tariiqil Islam (hal. 148)].


Karakteristik Kelima Puluh Dua: Diantara mereka terdapat orang yang menanamkan keraguan kepada orang lain tentang kejadian sejarah yang telah baku. [Dirasatun anil Firaq wa Tarikhul Muslimin (hal. 133)].


Karakteristik Kelima Puluh Tiga: Mereka mengajak kepada buta huruf dan menyatakan perang terhadap pendidikan, mengatakan bahwa tidak mungkin mengumpulkan antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu duniawi yang bermanfaat. [Dirasatun anil Firaq wa Tarikhul Muslimin (hal. 134)].


Karakteristik Kelima Puluh Empat: Mereka mengajak untuk memisahkan diri dari masyarakat muslim. Mereka memboikot sekolah, institusi, universitas, posisi (di) pemerintahan, dan tidak mau bertempat tinggal dengan orang-orang Muslim. [Dirasatun anil Firaq wa Tarikhul Muslimin (hal. 137)].


Karakteristik Kelima Puluh Lima: Diantara mereka ada yang meyakini bahwa seseorang yang berpendapat bahwa ijma ulama adalah dalil, adalah kafir. [Dirasatun anil Firaq wa Tarikhul Muslimin (hal. 143)].


Karakteristik Kelima Puluh Enam: Di antara mereka ada yang menghina para Sahabat dan menolak perkataan mereka. [Dirasatun anil Firaq wa Tarikhul Muslimin (hal. 144)].


Karakteristik Kelima Puluh Tujuh: Mereka menentang jenis taklid yang diperbolehkan bagi orang awam dan penuntut ilmu pemula, sedangkan para ulama telah memperbolehkannya, (dengan) mengatakan bahwa taklid adalah penyebab kekufuran dan kehancuran negara Islam. [Dirasatun anil Firaq wa Tarikhul Muslimin (hal. 146-147)].


Karakteristik Kelima Puluh Delapan: Mereka membunuh diri mereka dalam operasi bunuh diri berlandaskan hujjah yang batil.


Termasuk Ideologi Khawarij yang tampak di zaman sekarang: Menunjukkan akhlak yang buruk terhadap ulama, juga mencemarkan nama baik mereka, meremehkan mereka, dan menghidupkan hatinya dengan kebencian terhadap mereka, dan memiliki keberanian untuk menghina dan mengkritik mereka. [Al-Khawarij Awwalul Firaq Fi Tariiqil Islam (hal. 148)].


Termasuk Ideologi Khawarij yang tampak di zaman sekarang: Banyak di antara mereka mengambil jalan kehati-hatian dan kewaspadaan dalam (menjaga) kerahasiaan, karena keyakinan dan ideologi mereka bertentangan dengan apa yang para ahli ilmu dan seluruh kaum Muslimin berada di atasnya. Hal ini dilakukan meski dengan jalan meninggikan pernyataan bahwa mereka berpegang pada keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan mengikuti sebagian dari imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan para imam da’wah Salafi di tanah Najed (Arab Saudi). . [Al-Khawarij Awwalul Firaq Fi Tariiqil Islam (hal. 140-141)].


Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.


Semoga bermanfaat.




Hikam Fajri ®
Hikam Fajri ® Gue Hikam Fajri orangnye suka ngopi. Hehe... Jika ada pertanyaan, kritik, atau saran bisa langsung hubungin gue ke alamat Email [email protected]

Posting Komentar untuk "Asal Muasal Dan Karakteristik Khawarij"

Berlangganan via Email